Jum'at, 22 Agustus 2014
     
Home Bandarlampung Metropolis Mengenal Dua Peserta SBMPTN Berkebutuhan Khusus

Mengenal Dua Peserta SBMPTN Berkebutuhan Khusus

637
Kali Dibaca
E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
Lia Ingin Jadi Desainer, Ichsan Pilih Guru
Kendati memiliki kekurangan pada tubuhnya, T.H. Avilla Rosalia dan Ichsan Ridwan tidak patah semangat dalam menjalankan hidup. Buktinya, keduanya bertekad mewujudkan cita-citanya dengan mengikuti seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPT) meski dengan predikat peserta berkebutuhan khusus.

Laporan Gatra Yudha P., BANDARLAMPUNG

SUASANA lalu lintas di Jl. Z.A. Pagar Alam dan Jl. Soemantri Brojonegoro, Rajabasa, Bandarlampung, terlihat lebih padat dari hari biasanya kemarin. Bahkan karena kepadatan itu, polisi lalu lintas menutup beberapa over turn (putaran balik, Red) di kawasan tersebut sebagai langkah antisipasi kemacetan.

Sebenarnya, tidak aneh jika kepadatan lalu lintas terjadi di sana kemarin. Sebab di kawasan itu, tepatnya di Universitas Mitra Lampung (Umitra), SMPN 22 Bandarlampung, dan Universitas Lampung sedang dilaksanakan tes tertulis SBMPTN. Tercatat, untuk tahun ini, SBMPTN diikuti 16.438 peserta.

Pantauan Radar Lampung, tidak ada yang berbeda dari penyelenggaraan SBMPTN tahun-tahun sebelumnya. Namun untuk tahun ini, ada dua peserta berkebutuhan khusus yang ikut berjuang bersama belasan ribu peserta lainnya.

Keduanya adalah T.H. Avilla Rosalia yang akrab disapa Lia dan Ichsan Ridwan. Lia adalah penderita tunarungu dan tunawicara yang mengikuti tes di ruang C2 gedung Fakultas Pertanian (FP) Unila.

Sedangkan Ichsan merupakan penderita tunanetra yang mengikuti tes di salah satu ruangan lantai 2 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unila.

Kedatangan wartawan koran ini ke Unila kemarin memang ingin mengetahui bagaimana keduanya berjuang untuk menggapai cita-citanya. Kali pertama tiba di perguruan tinggi berjuluk Kampus Hijau tersebut, kemudian mendatangi gedung C FP tempat Lia melaksanakan tes.

Di sana terlihat beberapa peserta sedang membaca buku dan bercengkerama dengan teman-temannya. Ibarat kata pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba, tanpa sengaja Radar bertemu seorang pria paruh baya dengan rambut yang sudah memutih tengah mengisap rokoknya di bangku merah yang berada di gedung itu.

Ternyata, pria yang belakangan diketahui bernama Irianto itu adalah ayahnya Lia. ’’Ooo, saya ayahnya. Ini saya sedang menunggu dia tes,” ujarnya ramah kepada Radar Lampung kemarin.

Setelah mengetahui maksud Radar ingin bertemu putrinya, lelaki yang tinggal di Rawasari, Metro Timur, Kota Metro, itu menyambut baik.

Lelaki yang akrab disapa Pak Ir ini mengatakan, sejak lahir anaknya menderita tunarungu. Karena itu, sejak umur empat tahun sampai lulus SMP, Lia disekolahkan di SLB Dena Upakara, Wonosobo, Jawa Tengah.

’’Memang berat Mas, tetapi semuanya untuk kebaikan Lia. Karena di sana ia bisa mandiri dan banyak belajar yang membuatnya tidak canggung lagi saat melanjutkan pendidikan di sekolah umum,” katanya.

Terbukti, Lia dapat diterima di SMK III Metro dan lulus dengan nilai yang memuaskan. ’’Di sekolah, dia belajar sama dengan yang lain. Kalau ada yang tidak dimergerti, malamnya pasti bertanya pada saya,” ungkapnya.

Pria yang berprofesi sebagai pelukis dan pematung ini sepertinya menurunkan darah seninya kepada sang anak. Sebab, Lia ternyata sangat pandai melukis sampai menjuarai lomba lukis tingkat nasional.

’’Itu juga yang mendasarinya untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Tata Busana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Ya, mudah-mudahan dia diterima Mas,” harapnya.

Ketika tengah asyik mengobrol dengan Pak Ir, tiba-tiba bel berbunyi, yang menandakan waktu mengerjakan soal SBMPTN telah rampung. Tidak lama kemudian, sosok wanita kurus berbaju pink keluar dari pintu gedung C FP Unila.

Kemudian, Lia mengobrol dengan ayahnya dengan bahasa isyarat. ’’Kata lia, dia hanya bisa menjawab 60 soal. Karena soalnya sulit, meski sudah belajar, dia tetap bingung,” ujar Pak Ir kepada Radar.

Menurut dia, selain tata busana, Lia juga mengambil Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unila. Namun, ia sangat ingin bisa diterima di UNY agar dapat menjadi desainer. ’’Dia sangat suka menjahit dan menggambar. Karena itu, dia sangat ingin diterima di UNY,” tuturnya.

Berbeda dengan Lia, Ichsan yang juga sempat ditemui Radar ternyata saat mengikuti tes harus dibantu oleh dua panitia, yakni Ghurum dan Junaidi.

Lulusan SLB Bina Insani ini memilih Program Studi Pendidikan Luar Biasa UNJ, Pendidikan Luar Biasa UNY, dan Pendidikan Luar Biasa UN Padang. Dia mengaku cukup sulit menjawab soal bergambar. ’’Saya hanya ingin mengikuti tes dan memperbaiki masa depan. Kalau tadi cuma bisa menjawab 25 soal,” katanya.

Lelaki yang bercita-cita menjadi guru ini mengatakan ingin menularkan ilmu yang didapatnya kepada orang-orang berkebutuhan khusus seperti dirinya agar bisa terlatih dan mandiri serta tidak dipandang sebelah mata.

’’Saya ingin buktikan kalau tunanetra bisa meraih prestasi. Karena itu, saya ingin jadi guru, sebab saya ingin memperbaiki generasi,” imbuhnya.

Dia mengaku yakin bisa lulus dalam mengikuti SBMPTN karena sudah mempersiapkan diri secara maksimal. Saat ini, ia menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. ’’Saya percaya diri dan tidak bergantung orang lain,” tandasnya. (p4/c1/whk)

Baca Juga
Berita Lainnya